Langsung ke konten utama

Bye my Past


Note: cerita ini  murni  "Karangan" penulis blog ini! Dilarang copy, plagiat atau tindakan tidak terpuji lainnya. jika ada kesamaan nama, cerita atau kejadian dalam cerita ini merupakan bentuk ketidaksengajaan. i don't know you and  you don't know me..

"Kesempurnaan hanya di tangan Tuhan, dan kekurangan merupakan sifat manusia"

enjoy reading...

*********



“Hello.. How are you?” senyum di wajahnya merekah  dengan sempurna. Senyumnya masih  sama seperti  dulu, menenangkan. Teringat  semua kenangan bersamanya dulu, canda tawanya, senyumnya, perhatiannya, dan semua tentangnya.

“I’m fine.. how about you?” Jawabku seraya tersenyum

“i’m good.. and very handsome, i think.” Awalnya aku melongo mendengar pernyataanya, tapi tak lama kami malah tertawa bersama. 

Well, ini adalah pertemuan pertama kami  setelah hampir 2 tahun tidak bertemu. Aku ingat, terakhir kami bertemu saat kami  menghadiri acara wisuda salah satu teman kami.  Tidak ada perubahan yang berarti darinya, ia hanya terlihat lebih tinggi  dan lebih berkharisma.

“kamu terlihat  berbeda.” pujinya

“oh.. Thanks.” Balasku dengan suara yang dibuat seakan tersipu malu. Dia hanya tertawa mendengar balasanku.

Percakapan kamipun berlanjut dari  cerita menganang masa sekolah, cerita tentang kuliah  hingga pekerjaan kami sekarang. Tiba-tiba putra menghentikan percakapan. Putra merubah  posisi duduknya dan menghela napas berkali-kali sebelum kembali bertanya.

“Sasa bilang kamu  mau  nikah ya?” aku tercekat  mendengar pertanyannya, aku bingung harus menjawab apa..

“ehm.. Iiiya” jawabku ragu.

“Sama siapa?”

“Sama temen kantor”

“O.. Congrats ya,,” ujarnya sambil tersenyum. Aku pun tersenyum tak sanggup membalas ucapan selamatnya.

“Sayang ya, aku terlambat.. Hah...”

Aku termenung sejenak, mencoba mencerna ucapannya. Perlahan, aku angkat wajahku untuk melihat wajahnya yang  sekarang  sedang memandang jauh  ke depan, entah  kemana tepatnya. Dengan sisa kekuatan yang  aku  miliki, aku  bertanya “Maksudnya?”
Putra menatapku sejenak, tersenyum, dan menatapku  dengan tatapan yang  aku  sulit mengerti. Serasa ada kesedihan, kekecewaan, amarah dan segala rasa yang  tidak bisa aku  deskripsikan.

“Seandainya dulu aku tetap berjuang, aku mungkin bersama kamu  sekarang.” Ujar putra sambil menerawang jauh..

Aku terdiam sejenak, aku merasa ini akan menjadi  situasi yang tidak enak, sehinngga aku memutuskan untuk  bercanda dengannya.

“ehm..  bukannya sekarang kita sedang  duduk  bersama ya? Berdua lagi.. Kalau kamu berjuang, mungkin kamu sudah ada di negara perang sekarang  sedang bertempur. Tidak bertemu  denganku..” celotehku seraya tertawa.

Tapi putra hanya menatapku  tanpa ekspresi, secara otomatis aku  berhenti tertawa  dan balik menatapnya.  Tak seberapa lama putra menghela napas dan berkata

“Dulu aku  suka padamu..”
Aku tertegun. Putra menyukaiku? Hah? That’s not true.

“hahaha.. you’re liar. You never love me.. By the way, aku  via lho.. aku  bukan sarah  ato  melly. Kamu gak  salah  nyatain cintakan?” Tanyaku pura-pura serius

“Hah?” sekarang giliran putra yang  kebingungan

“Iya, kan kamu  menyukai  Sarah dan Melly. Kamu pasti  berpikir kalau aku  adalah  mereka.” Putra hanya tertegun mendengar ucapanku. Tak seberapa lama, ia mengeratkan bibirnya, pertanda kesal.

“No. Aku tau  beda kamu , sarah dan Mely. Well, aku memang  menyukai  mereka, tetapi itu  setelah  kamu gak  rspect sama aku.”

“itu  terdengar seperti  kamu sedang  main-main, Put.” Ucapku

“of course not, dulu waktu  aku  mendekatimu, aku tidak main-main.. I  falling in love with you, but i know, we were so young to fell that. Apalagi kamu terlihat  seakan menjauh dan tak suka aku terlalu dekat denganmu.”

“Putra, stop kidding me. It’s not fun annymore.” Ujarku  sambil membetulkan dudukku.

“No.. Never. I was fall in love with you, and that’s real!!”
Aku bungkam, hatiku  mencolos. Seandainya aku sedang  tidak bersandar pada pilar rumahku, mungkin aku sudah merosot jatuh dari tempatku  duduk. Ada rasa sesak yang  menyelimuti hatiku. Sekali lagi kenangan masa lalu dengan putra melintas di pikiranku. Tanpa terasa airmataku  jatuh dan mengalir tanpa bisa aku cegah. Putra yang melihatnya langsung kelabakan dan terlihat panik.

“Vi, kenapa menangis?” Wajah putra terlihat sangat menderita, benar-benar semakin menyesakkan dadaku.

“ hahaha.. that’s fun...” aku tertawa tak enak di sela tangis kesediahanku..

“ well, aku juga mencintaimu dulu. Aku bukan menjauh, aku hanya tidak sanggup mengunggapkan rasa sukaku. Aku senang kau dekat denganku, aku menyukai semua perhatian. Aku sangat menyukai suara tawamu. I love you so much. Aku kaget karena kau tiba-tiba menghilang, dan tak perhatian lagi. Aku terlalu takut untuk bertanya, terlalu takut untuk mendekatimu lagi. Kau seperti landak yang siap menusukkan durimu jika aku mendekat.. hahaha..” lagi lagi aku tertawa disela tangisku. Well, aku tau tawaku agak aneh saat ini dan aku yakin Putra sadar alasannya.

“Aku selalu berdoa kepada tuhan agar jika kau jodohku, kita akan didekatkan. Tapi kamu tetap menjauh, dan semakin menjauh. Akhirnya aku menyerah dan melepasmu. Tapi jujur, aku belum bisa melupakanmu, hingga aku bertemu Darius tahun lalu.” 

Putra terbelak, tak sanggup mengatakan apapun. Mungkin ia terlalu kaget mengetahui aku  sulit moveon darinya. Atau mungkin ia kaget karena dulu aku terlalu berharap padanya. Ntahlah aku tidak terlalu memusingkan hal itu. Aku hanya berhenti sejenak, menghela nafas, dan kembali menyuarakn perasaanku.

“I fell in love with Darius, and fell comfort with him. He’s too kind. And he loves me more.”

Putra terdiam. Tidak ada percakapan lagi selama beberapa menit berikutnya. Hanya isak tangis Via yang perlahan mereda dan helaan nafas putra.

“I fell so sorry.”

“No.. don’t fell sorry. That’s not your fault. That;s no my fault. That’s fate. And now, that’s done. I’m with darius now. And I’m Happy with him.” Ujarku  seraya tersenyum dengan tulus pada Putra. Aku ingin meyakinkannya kalau aku baik-baik saja, dan sekarang  ada Darius yang bertugas untuk membuatku bahagia. Aku bisa melupakan masa lalu.

The past is in the past..

“Yeah.. i know.. I’m fell happy for you.” Ucapnya dengan tulus dan dengan senyum yang sekarang  mulai mengembang  di sudut bibirnya. Setelah mendengar ucapan Putra, aku tertawa senang. Aku bahagia semua bebanku selama ini telah tercurahkan. 

Aku tersenyum kearahnya dan menjulurkan tanganku.

“Hello my friend. My name is Via. Nice to meet you.”  Putra yang awalnya masih bingung, tiba-tiba tersenyum dan menerima uluran tanganku.

“Hai via, My name is Putra. Nice to meet you too.” Lalu kami tertawa bersama.

Cinta memang selalu memiliki rahasianya sendiri. Aku memang telah kehilangan cinta Putra, eh lebih tepatnya aku kehilangan kesempatan memiliki putra. Tapi aku senang karena aku memiliki teman baru, sepertinya kami akan menjadi teman akrab sekarang. Aku senang, sebelum melepas masa lajangku aku telah lebih dulu melepas kisah remajaku. Aku bahagia karena sekarang  aku  bisa melangkah dengan ringan menggenggam tangan Darius, membangun istanaku dengannya tanpa memusingkan kisah masa laluku. Aku bahagia. Aku bahagia Putra. Dan aku berharap kamu juga...

Bye bye my past. 

#Fiction
#my palace, 18 Mei 2015

 #Rindi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

More Scary Than Love

Terkadang cinta itu terlalu buta, hingga kau tak peka keadaan sekitar Terkadang cinta itu terlalu egois, tak mau tau dan tak ingin tau Terkadang cinta terlalu gila, hingga sanggup menghancurkan logika Terkadang cinta terlalu bodoh, hingga kau tak sanggup membedakan mana yang baik dan buruk Tapi.... ada hal lain yang jauh lebih buta, lebih egois, lebih gila dan lebih bodoh dari cinta. Hal itu bernama... DENDAM at. Kota yang sedang hujan, 25 januari 2016

4 desember 2015 _today's moment

Maka menulislah... aku pernah mendengar ah lebih tepatnya membaca sebuah buku. Aku lupa karangan siapa, tapi sang penulis mengatakan "menulislah, agar bisa menjadi pengingat untukmu di masa depan" Dan kali ini aku merasakan itu.. Ya, aku merasakannya.. Aku merasa hari ini benar-benar hari yang melelahkan,, tapi saat melihat semua tulisan-tulisanku bik di blog maupun di file pribadiku, aku menyadari satu hal Aku pernah lebih sakit dari ini